Uncategorized

Masalah Kejiwaan: Trauma

Trauma psikologis adalah jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, yang mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan.

 

DAMPAK TRAUMA TERHADAP TINGKAH LAKU

Anak-anak dalam Trauma

            Apa yang terjadi pada anak sehat yang menghadapi trauma?  Pertama, kita harus ingat bahwa tidak semua anak-anak bereaksi terhadap kekerasan dan trauma dengan cara yang sama.  Trauma biasanya terdiri dari beberapa peristiwa, bukan pada suatu peristiwa saja, yang mempengaruhi  anak dengan cara yang berlainan.  Dari sudut pandang anak, trauma dapat dikategorikan ke dalam tiga kategori seperti yang ditunjukkan dalam siklus kekerasan.

 

Kekerasan

            Kebanyakan anak-anak dalam trauma mengalami dan menjadi korban kekerasan. Kekerasan ini diekspresikan melalui banyak cara – kehidupan jalanan dengan mucikari dan bandar obat-obatan terlarang, peperangan, pelecehan seksual, dll.  Mungkin kekerasan yang paling buruk bagi anak-anak yaitu pada waktu mereka dipaksa untuk melakukan kejahatan itu sendiri – sering-sering  terhadap orang yang memelihara, keamanan, kasih dan perhatian terhadap mereka itu sendiri.  Pada waktu anak-anak bertumbuh dalam  bentangan kekerasan, biasanya hal itu mengakibatkan  kehilangan yang berat atau perpisahan.

Kehilangan atau perpisahan

            Anak-anak bisa kehilangan orang tua, saudara-saudara, rumah tangga, dan bahkan negaranya, jika mereka dipaksa untuk lari dari kekerasan.  Resikonya, banyak anak harus tinggal di kamp pengungsi atau sebagai anak jalanan.  Anak-anak juga mungkin juga kehilangan secara fisik karena kekerasan yang menimpa mereka, seperti kehilangan bagian tubuhnya, yang menyebankan mereka menjadi timpang seumur hidup, atau kehilangan kesehatan, karena tertular penyakit yang didapatkan karena pelecehan seksual. Banyak orang  merasa kehilangan yang paling mendalam  adalah kehilangan hak dasar  mereka sebagai anak, yang disebabkan keterbatasan  tanggungjawab , perlindungan oleh orang dewasa dan kebebasan yang terjamin untuk menjelajahi dan menemukan dunia mereka.  Mungkin mereka kehilangan semua perasaan yang terbuka akan keingintahuan, anak  yang masih lugu.

Eksplotasi ( mengambil kesempatan dalam kesempitan anak-anak dalam keadaan mereka)  

            Eksplotasi menjadi kombinasi dari kekerasan dan kehilangan. Anak-anak dapat dieksplotasi melalui berbagai cara, termasuk dipaksa untuk melayani sebagai tentara anak, diambil untuk menjadi pekerja anak, atau digunakan sebagai pelacur atau dalam pornografi.

            Pengalaman kehilangan, kekerasan dan eksplotasi adalah saling berhubungan dan saling menguatkjan satu dengan yang lainnya, berrotasi dalam lingkaran yang ganas dan sangat merusak.  Pengalaman demikian mengakibatkan tiga reaksi dasar secara psikologis:

  1. Ketakutan – khususnya bagi keamanan dan hari depan mereka dan anggota keluarga mereka. Mereka takut bila tak ada orang yang  memperhatikan mereka atau menyediakan  makanan bagi mereka atau bahwa mereka tak akan bersekolah lagi.  Semua yang mereka saksikan dan alami dalam trauma memperbesar ketakutan mereka.
  2.  Protes – terhadap ketidak adilan dan kejahatan yang menimpa mereka. Bahkan anak-anak kecil secara terbatas memiliki rasa  keadilan dan kejujuran dan tahu  apa yang sedang terjadi terhadap mereka adalah tidak wajar. Ketidakadilan adalah kekurangan pengertian mengenai akibat trauma  dalam kemarahan yang membuat frustrasi, yang sangat berdampak kepada kesejahteraan anak.
  3. Kesedihan – terhadap kehilangan mereka, khususnya pada waktu mereka menyadari bahwa dalam banyak kasus kehilangan tersebut tidak dapat diganti. 

Traumatis namun Sehat                   

            Tanggapan trauma dan emosi ini adalah normal dan merupakan reaksi sehat yang diperlukan dan mendasar bagi anak-anak  semasa mereka berupaya melalui pengalaman-pengalaman dan kehilangan.   Sebagian anak-anak,  khususnya yang mempunyai orang dewasa yang memperhatikan yang dapat menolong mereka menampung perasaan mereka, dan memantulkan pikiran-pikiran  dan perasaan-perasaan mereka, dapat mengatasi reaksi-reaksi tersebut dan tetap sehat; sedangkan yang lain tak dapat

Segitiga Kekacauan

            Sebagian anak-anak memiliki permasalan yang diakibatkan oleh trauma mereka.  Problema –problema  ini dapat dimengerti dengan cara terbaik dalam konteks mereka melalui  “Segitiga Kekacauan” yang disajikan dengan  anak-anak dalam krisis, baik mereka menunjukkan gejala – gejala atau tidak.  Segitiga tersebut mewakili:

  1. Kekacauan dalam diri anak

Pengalaman dan perasaan anak-anak memberitahu mereka bahwa mereka ada dalam situasi yang tak dapat mereka kendalikan, dan yang mereka tidak mengerti. Bagi mereka, peristiwa traumatis  tidak memiliki makna yang berarti.  Mereka dalam ketakutan yang terus menerus  yang tak dapat mereka mengerti dan kendalikan.

  1. Kekacauan dalam keluarga

Sering sering keluarga dan rumah tangga tidak bisa lagi berfungsi sebagai struktur yang aman dan mendukung seperti sebelumnya. Iman dan kepercayaan mereka dalam kemampuan orang tua  untuk memelihara mereka tidak seperti dulu lagi – menjengkelkan.  Ada ketakutan dan kekuatiran bahwa orang tua sudah tidak bisa mengendalikan lagi.  Peristiwa traumatis ini bukan saja melukai dasar kepercayaan mereka, tetapi juga keterikatan batin mereka.  Terputusnya  kepercayaan dalam keluarga  merintangi kapasitas untuk mempercayai diri mereka sendiri atau orang lain. Itu sebabnya kapasitas untuk menikmati hidup dan merasa aman hancur.

  1. Kekacauan dalam lingkungan dan masyarakat

Dalam keadaan trauma, anak-anak sering mendapatkan diri mereka tinggal dalam lingkungan yang janggal, tanpa kebutuhan dasar hidup. Stuktur komunitas di sekeliling mereka menjadi asing: sekolah, gereja, pasar, tempat rekreasi,  dan struktur lainnya yang mewakili pusat kehidupan komunitas. Tanpa struktur yang sudah biasa bagi mereka, maka kehidupan anak-anak menjadi kacau.

             Seseorang mungkin menghadapi dua kemungkinan dalam pendekatan kepada anak yang  mengalami segitiga kekacauan – anak yang memiliki gejala-gejala dan yang sama sekali tidak kelihatan gejalanya.

Anak Traumatius dengan gejala-gejala.

            Apabila faktor peredaan (faktor yang membuat situasi tidak separah atau sesakit itu, karena ada sistem pendukung yang mengerti keadaan trauma) tidak berfungsi sebagaimana seharusnya atau tidak bisa mengentaskan trauma, segitiga kekacauan terbentuk dengan sendirinya dalam diri anak.  Kebingungan ini membatasi tempat yang ada untuk menciptakan informasi yang datang berkenaan dengan kekerasan, kehilangan,  dan eksplotasi. Segitiga kekacauan  menghalangi kemampuan anak untuk mengkomunikasikan perasaan yang sesungguhnya dan menyembunyikan apa yang sesungguhnya sedang terjadi dalam anak.  Sulit bagi seorang anak untuk  berhubungan dengan ketakutannya, protesnya dan kepedihannya

Kita harus menyadari bahwa  tingkah laku (tubuh) dan gejala-gewjala  agresif,  kemunduran atau psikosomatis, adalah upayanya untuk menyatakan perasaan dan kebutuhannya. Kalau pendamping dapat mengerti gejala-gejala ini dengan benar  akan memungkinkan  mengerti pengalaman traumatis anak.

Tingkah laku anak-anak dengan gejala-gejala

            Anak-anak dengn gejala akan bereaksi terhadap kebingungan ini dengan salah satu dari tiga cara ini:

  1. Tingkah laku agresif ( memukul, menendang, menjerit dan memecahkan barang).
  2. Tanda-tanda tingkah laku kemunduran (pada umumnya terdapat pada anak-anak yang masih muda – ngompol, menggelendot, bicara seperti bayi). Tingkah laku anak-anak mundur kepada waktu dimana mereka dulu merasa aman.
  3. Gejala-gejala fisik (sakit kepala, sakit perut, dan hilang nafsu makan).

 

Pada waktu menunjukkan gejala secara fisik, anak-anak itu sebenarnya tidak sungguh-sungguh sakit melainkan menunjukkan trauma mereka.  Sering-sering keluhan ini adalah usaha terakhir untuk berkomunikasi, pada waktu saluran lain buntu. Mereka berupaya untuk  menyampaikan kebutuhan mereka  akan orang  yang bisa mengerti bahwa mereka terluka., sedih, takut dan memprotes. Anak-anak memiliki taraf toleran tertentu terhadap kesedihan  sebelum tubuh mereka bereaksi.

      Kadang-kadang pendamping dan  petugas medis salah mengartikan gejala-gejala tersebut.  Contohnya, pada waktu peperangan di Liberia,  tingkah laku agresif  karena trauma peperangan, disalahtafsirkan sebagai problem tingkah laku, karena anak-anak bereaksi di luar norma kultur yang mengharuskan anak menghormati orang dewasa.  Pada waktu mereka dihukum karena dikira  bahwa tingkah laku mereka salah, maka anak-anak  mengalami trauma dua kali lipat.

      Gejala-gejala ini, bisa menjadi sehat bila para pendamping mewaspadai perbedaan apa yang sedang terjadi kepada anak-anak.  Gejala tersebut bukan saja membuat Anda waspada pada fakta bahwa ada yang tidak beres, namun juga memberi kesempatan bagi anak-anak untuk membicarakan perasaan yang sesungguhnya.  Dimana ada gejala, disana ada harapan.

Anak traumatis yang tanpa gejala-gejala.

      Ada banyak problema yang lebih serius mengelilingi anak-anak yang, karena  kehebatan traumanya sampai tidak menunjukkan gejala trauma sama sekali. Para pendamping harus sangat waspada  untuk mengenali anak-anak ini, yang amat sangat menderita dan mempunyai  kebutuhan yang paling mendalam akan pertolongan untuk  mencegah  dalam jangka panjang atau akibat yang terus menerus dari trauma mereka.

      Dengan anak-anak ini, segitiga kekacauan menjadi demikian  padatnya sehingga seseorang tidak dapat mengira apa yang sedang terjadi dalam diri anak. Anak-anak itu telah kehilangan kemampuan untuk mengkomunikasikan perasaan mereka yang sebenarnya, pikiran, emosi mereka kepada dunia luar. Jiwa anak itu diam.

Tingkah laku anak-anak tanpa gejala

      Kita mengetahui bahwa anak-anak semacam itu telah kehilangan perlindungan keluarga dan jaringan keamanan, sedangkan anak-anak ini adalah: —

  • Lebih seperti orang dewasa, seorang anak yang matang,  dengan  suasana penolakan.
  • Lebih lelah daripada keagresifan
  • Lebih kompeten dari agresif,  tanpa keluhan medis
  • Menolak dengan keras rasa takut apa saja, marah atau derita.
  • Merasa  diri cukup dengan sikap: “ Oh hidup hanya begitu saja, Saya dapat mengatasinya. Saya dapat mengurusi diri sendiri.”

Anak-anak ini dianggap tabah dan mengagumkan. Namun kita ketahui dan harus ingat bahwa mereka sudah mengalami banyak kekerasan, kehilangan dan penganiayaan. Dari segi psikologis, anak-anak ini menderita trauma yang paling besar dan biasanya lebih memerlukan pemeliharaan jangka panjang daripada anak-anak yang menunjukkan gejala-gejala.  Untuk bisa mendapat kesembuhan, para pendamping harus mengusahakan agar anak-anak ini dapat mengkomunikasikan perasaan dan pikiran mereka yang benar

Memulihkan anak dari Trauma

      Empat pelajaran berikutnya akan menjelaskan unsur-unsur pokok untuk memulihkan seorang anak dari trauma.

      Strategi ini termasuk —

  • Memberi kesempatan untuk melepaskan secara aman  perasaan-perasaan  (berbicara atau bermain)
  • Memberi anak rasa aman yang dapat memberi kebebasan  dari gejala-gejala dan tingkah laku  pascatraumatis.
  • Menolong anak  pulih dari rasa misteri dan kendali dalam kehidupan melalui situasi yang tersusun seperti kehidupan yang rutin dan membuat keputusan.
  • Memperbaiki kesalahfahaman dan mempersalahkan diri.
  • Memulihkan rasa percaya anak dalam dirinya sendiri, bersamaan dengan keyakinan dalam pengharapan bagi masa depan.
  • Memperkecil luka trauma melalui menunjukkan  pengertian orang lain akan trauma anak, khususnya  bagi mereka yang memberikan perhatian / pemeliharaan.

 

Waktu Berdiskusi anak-anak yang mengalami trauma

            Pilihlah 3 peserta untuk memerankan, namun main peran tersebut harus tahu mereka sedang memerankan  gambaran siapa.

Ketiga anak-anak yang diperankan adalah:

  1. Seorang anak yang mengalami trauma namun tetap sehat
  2. Seorang anak yang mengalami trauma dan sedang menunjukan gejala-gelaja.  
  3. Seorang anak yang mengalami trauma dan tidak menunjukkan gejala-gejala.

Sementara menonton,  kelompok akan menerka  kategori anak mana yang sedang diperankan dan berikan alasan akan pilihan mereka.

Kegiatan Belajar

–          Mintalah para peserta membagi diri ke dalam kelompok studi kasus mereka. 

 

sumber : 

http://id.wikipedia.org/wiki/Trauma_psikologis

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=pengertian+trauma&source=web&cd=6&ved=0CFEQFjAF&url=http://www.indonesianorphans.com/lessons/Trauma-6-FINAL.doc&ei=L8FtT4KsE4zMrQfYhrGiDg&usg=AFQjCNFrm0FHdNqUCzJ8vNM9-gLMMNzYcA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s