Ilmu Sosial Dasar

Diskriminasi Warga Negara Tionghowa Dalam Dunia Politik, Ekonomi, Sosial, Dan Budaya

Diskriminasi Warga Negara Tionghowa Dalam Dunia Politik, Ekonomi, Sosial, Dan Budaya
 
(Warganegara dan Negara)
 
Oleh
Widya Widowati
PLS-UM
 
Menurut Biro Pusat Statistik ( BPS ) , jumlah penduduk Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan meroket hingga 79,4 juta orang , yang berarti 40% dari penduduk Indonesia . Ketua BPS , Suwito Sugito , mengatakan bahwa angka tersebut akan meningkat hingga 95,8 juta , atau sekitar 48% dari 240 juta penduduk sampai 2001 , karena belum ada tanda – tanda pemulihan perekonomian .
Di daerah pedesaan pendapatan lebih rendah dari Rp.41.600,00 atau setara dengan 3,20 dollar AS perorang digunakan untuk mendefinisikan kemiskinan .
 
Dengan mengamati dan mengevaluasi situasi ekonomi dan sosial pada tahun 1998 , mahasiswa dari berbagai sekolah tinggiIndonesiamenggelar demonstrasi damai di kampus masing – masing menuntut pemerintahan untuk segera mengatasi krisis ekonomi yang terjadi . Pada mulanya demonstrasi mahasiswa dapat ditangani oleh aparat keamanan dengan baik , namun pada 12 Mei 1998 , Sekitar 5000 Mahasiswa bergerak di depan kampus mereka menuntut reformasi ekonomi , sosial , dan politik . 4 mahasiswa Trisakti tewas tertembak oleh aparat Keamanan .
 
            Dua hari setelah demonstrasi dan peristiwa penembakan , rakyat marah dan bersimpati kepada keluarga korban penembakan tersebut . Namun beberapa kelompok politik memanfaatkan situasi tersebut untuk kepentingan politik mereka . Mereka memprovokasi massa yang marah , memprovokasi agar mereka turun ke jalan membakar bangunan – bangunan toko , menjarah barang – barang di toko , memperkosa perempuan keturunan Tionghoa , dan bahkan membunuh mereka . Ratusan toko , bangunan , mobil dan motor hancur terbakar .
            Sebagian besar korban huru hara 13 – 14 Mei 1998 adalah warga keturunan Tionghoa . Ribuan warga Indonesia keturunan Tionghoa melarikan diri ke berbagai kota di Indonesia atau malah pergi keluar negeri terutama Malaysia , Singapura , Amerika Serikat , Hongkong untuk menyelamatkan diri . Hingga sekarang dampak trauma masih tersisa , khususnya bagi korban pemerkosaan dan penjarahan .
            Dibawah ini terdapat dua artikel yang menggambarkan tentang kekejaman dan ketidakmanusiawian terhadap etnis Tionghoa di Indonesia .
 
Cerita ini dikatakan oleh Guo Chien Ing , seorang warga keturunan Tionghoa , kepada reporter AsiaWeek[1] :
“ pada jam 11 tanggal 14 Mei , seorang pedagang berusia 45 tahun menarik pintu penutup tokonya di daerah yang dihuni berbagai jenis etnis di Jakarta . Ada kerumunan orang , dan dia merasa ada hal yang tidak beres . Guo menyuruh anak dan istrinya untuk segera menyelamatkan diri kerumah saudaranya dan Guo melindungi diri didalam toko . perusakan mulai dilakukan , bebatuan menghantam toko dan pintu penutup . Guo naik keatas lantai rumahnya dan kemudian memanjat dari jendela belakang ke atap . Tetangganya , seorang perempuan muslim , menaruh tangga untuk membantunya turun , tapi perempuan tersebut terlalu takut untuk menampung Guo di rumahnya . Sendiri dan dalam keadaan takut , dia diselamatkan oleh warga muslim lainnya dan diberi tempat berteduh dirumah seorang muslim yang telah menyelamatkannya . Dari dalam tempat persembunyiannya , Guo melihat tokonya telah diluluhlantahkan oleh para penjarah . Guo tidak bisa apa – apa , dia hanya bisa menangis . Namun dia tidak tahu mengapa , rumahnya tidak dibakar . Guo mengira bahwa ada salah satu tetangganya yang bukan keturunan Tionghoa telah memberi tahu kepada para penjarah agar tidak membakar rumahnya . Guo dan keluarganya sekarang aman dirumah saudara perempuannya . Dia berencana untuk melamar visa agar dia dan keluarganya dapat menetap di Australia . “
 
Cerita lainnya diterbitkan oleh Suara Pembaruan
“13 Mei 1998 pada pukul 16.00 WIB , tiga saudara perempuan yang tinggal di ruko berlantai tiga di jalan utama Jakarta Barat , merasa kaget saat ada 7 orang lelaki memasuki ruko mereka dan menghancurkan barang – barang yang ada didalam toko mereka . Ketiga saudara tersebut panik dan lari kelantai tiga , namun para perusuh mengikuti mereka , dan menyuruh mereka untuk melepas pakaian mereka . Para perusuh memperkosa dua gadis diantaranya berusia 18 dan 20 tahun . Kedua gadis tersebut diperkosa dan berteriak histeris , perusuh yang masih berada di lantai 3 mendorong gadis tersebut ke kobaran api . Keluarga mereka menemukan jasad kedua gadis itu hangus dan barang – barang didalam ruko hangus terbakar . Dalam keadaan telanjang , gadis tertua diselamatkan oleh tetangganya setelah para perusuh meninggalkan ruko yang terbakar tersebut” .
 
            Dari cerita diatas , apapun penyebabnya , korban dan kambing hitamnya biasanya adalah warga Indonesia keturunan Tionghoa . Mereka dituduh tidak mempunyai rasa kebangsaan , binatang ekonomi yang hanya berfikir financial , tidak pernah berempati pada warga Indonesia asli yang miskin , menggunakan bahasa mandarin , hidup eksklusif didaerah pecinan dan mempunyai sifat angkuh .
            Peristiwa Mei 13 – 14 1998 , di Jakarta berdampak luar biasa dan berkepanjangan pada sektor ekonomi dengan total kerugian Rp 50 Triliun , atau sekitar 40 Miliar Dollar AS . Untuk mencegah terulangnya kembali peristiwa yang memilukan semacam itu dimasa yang akan datang , solusi yang baik adalah usaha integrasi , asimilasi , dan menanamkan jiwa pluralisme yang kuat antara warga pribumi dengan warga Indonesia keturunan Tionghoa , khususnya dibidang usaha sosial , budaya ,dan politik .
 
Berdasarkan latar belakang diatas, adapun rumusan masalah sebagai berikut; (1)Bagaimana mengubah pandangan negatif warga pribumi terhadap WNI keturunan Tionghoa ? (2) Bagaimana pandangan warga Pribumi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia dalam aspek ekonomi , Sosial ,Budaya , dan Politik ?(3) Apa saja manfaat yang diperoleh warga pribumi dari WNI keturunan Tionghoa ?
(4)Bagaimana sudut pandang melalui pendidikan nonformal dalam mengatasi masalah perbedaan etnis yang terjadi antara warga pribumi dengan etnis Tionghoa?
 
            Tujuan dari penulisan ini adalah membahas WNI keturunan Tionghoa dalam sektor ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Membahas tentang pandangan warga pribumi terhadap etnis Tionghoa yang tinggal diIndonesiadan membahas tentang manfaat yang diperoleh warga pribumi dari etnis Tionghoa
 
Solusi nya adalah :
Untuk suatu kehiduan yang lebih baik, Sebaiknya generasi muda WNI
Tionghoa ikut aktif dalam kegiatan–kegiatan integrasi dan asimilasi dalam kegiatan
sosial dan tinggal di daerah heterogen agar mereka juga dapat melakukan suatu proses
integrasi dengan warga asli Indonesia. Seperti misalnya pada kegiatan peringatan
HUT kemerdekaan Republik Indonesia, sebaiknya WNI Tionghoa dilibatkan sebagai
pasukan paskibraka, sehingga mereka akan merasa sama dengan kelompok etnis lain.
http://www.imadiklus.com/2012/07/diskriminasi-warga-negara-tionghowa-dalam-dunia-politik-ekonomi-sosial-dan-budaya.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s